RSS

Category Archives: Share

Beras Coklat vs Beras Merah

Berawal dari ketertarikan untuk mengatur pola makan, gw coba untuk mempelajari tentang beras yang menjadi asupan keseharian.
Banyak yang mengatakan “jika ingin diet, sebaiknya makan beras merah!” lalu gw pun coba mencari beras ini. Kemudian masih dalam pencarian, ditawarkan jenis beras yang sebelumnya belum pernah gw dengar, beras coklat, atau yang lebih dikenal dengan organic brown rice.

Dari berbagai sumber yg ada, didapatkan informasi yang berbeda-beda mengenai kedua jenis beras ini, ada yang mengatakan bahwa beras coklat lebih sedikit kalori daripada beras merah, jadi beras ini lebih baik untuk diet rendah kalori. Namun ada juga yang mengatakan beras merah itu adalah beras coklat.

Image
Beras Coklat
Beras coklat adalah beras yang hanya dihilangkan sekamnya, namun tidak dipoles menjadi beras putih. Beras coklat dan beras putih memiliki kandungan kalori, karbohidrat, protein dan lemak yang sama. Yang membedakan hanyalah dengan proses penggilingan beras dengan alat pemoles, lapisan aleuron beras akan hilang. Bersamaan dengan hilangnya lapisan terluar beras ini hilang pula beberapa vitamin B1, B3 dan zat besi. Beras coklat juga mengandung asam-asam lemak dan serat pangan yang lebih tinggi dari beras putih. Beras coklat yang masih mengandung dedak, mengandung pula minyak dedak yang katanya mungkin dapat menurunkan LDL Cholesterol.

Organic brown rice adalah beras coklat yang dalam pertumbuhannya dibebaskan dari pestisida yang mengandung Arsen. Parahnya, Arsen dapat berpengaruh buruk pada berbagai organ tubuh termasuk kulit, sistem respirasi, kardiovaskular, sistem imun, sistem genital, sistem reproduksi, dan sistem syaraf.

Image
Beras Merah
Beras merah telah dikenal sejak tahun 2800 SM. Oleh para tabib saat itu benda ini dipercaya memiliki nilai-nilai medis yang dapat memulihkan kembali rasa tenang dan damai.

Meski, dibandingkan dengan beras putih, kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah (78,9 gr : 75,7 gr), tetapi hasil analisis menunjukkan nilai energi yang dihasilkan beras merah justru di atas beras putih (349 kal : 353 kal).

Selain lebih kaya protein (6,8 gr : 8,2 gr), hal tersebut mungkin disebabkan kandungan kandungan tiaminnya yang lebih tinggi (0,12 mg : 0,31 mg). Tiamin (kecukupan yang dianjurkan untuk dewasa pria usia 20-59 tahun 1,2 mg per hari, sedangkan untuk wanita 1 mg per hari) itu sebagai enzim yang berfungsi untuk berbagai reaksi metabolisme energi.

Unsur gizi lain yang diperkirakan juga berpengaruh pada pendongkrakan energi beras merah adalah fosfor (243 mg per 100 gr bahan).

Jadi, beras merah tidak sama dengan beras coklat, mana yang lebih baik? dua-duanya sama lebih baik darpada beras putih. Gw pribadi lebih memilih beras merah untuk diet tinggi protein.

Say no to nasi putih! 😀

Image

ps: ini review awam cuma sebagai konsumen yang sekedar tahu dan gw bukan ahli dalam bidang pertanian 😀

 
2 Comments

Posted by on May 3, 2012 in Share

 

Operasi plastik, emang kenapa?

Korea, negeri yang sudah sangat maju industri operasi plastiknya. Konon mayoritas artis K-Pop yang kece2 mampus itu karena sudah operasi mata, hidung, dll.

Di Indonesia, operasi plastik rasanya masih ada stigma negatif. Entah itu operasi mata, hidung, payudara, gw suka denger cibiran “Ah, itu kan operasi?”

Sebenarnya, emang kenapa coba kalo cantik/ganteng karena operasi?

Umat manusia selama ribuan tahun di berbagai kebudayaan terbukti selalu berusaha mempercantik diri. Kosmetik home-made, sampai kosmetik yang diproduksi komersial, sudah ada selama ratusan tahun, menunjukkan keinginan mempercantik diri itu sangat manusiawi (dan tidak disebabkan oleh advertising modern abad 20 saja).

“Mengubah fisik” dilakukan oleh kita semua. Kita semua pada dasarnya tidak menerima fisik kita “apa adanya”. Dari menyisir rambut, potong rambut, memakai gel rambut, memakai hand & body lotion, bedak, lipstik, kuteks, mascara, eye shadow, Lasik, dll, semua ini tidak ada bedanya secara esensi dari operasi plastik. Kita tidak puas dengan diri kita apa adanya, dan melakukan hal-hal untuk mengenhancenya.

Jadi kalo esensinya sama, kenapa ya operasi plastik dianggap lebih negatif?

Ada yang bilang, operasi plastik kan “permanen” sifatnya, sementara kosmetik hanya temporary. Tapi kalo kosmetik atau wonderbra-nya dipake setiap hari, ya nggak ada bedanya sih menurut gw. Malahan operasi plastik cara yang jauh lebih efisien untuk mempercantik diri.

Misalnya, topik favorit pria: memperbesar payudara. Gw sejujurnya gak perduli payudara asli atau palsu. Pertama, gw gak bakal tahu juga toket asli vs. palsu. Kedua, PEDULI AMAT asalnya dari mana, dada ya dada. Yang penting ukurannya bukan seperti tumor ganas dan berisiko membuat gw gegar otak, ya payudara implan sih bagus-bagus aja buat gw.

Jadi operasi plastik sih sah-sah aja untuk mempercantik diri, kalo memang ada uangnya, dikerjakan dengan professional, dan tidak membahayakan kesehatan.

Kalaupun ada “isu”, mungkin dari sudut pandang evolutionary psychology. Ketertarikan fisik, konon didrive dari keinginan mencari pasangan dengan gen berkualitas. Selama ratusan ribu tahun spesies kita tidak mengenal titel sarjana, jabatan pekerjaan, dan mobil. Jadi kesehatan fisik mejadi kriteria utama untuk kawin. Kecantikan dan keindahan tubuh adalah indikator visual dari gen yang bagus. Di jaman modern, tentunya fisik bukan satu2nya faktor lagi, tetapi “software” otak kita susah berubah secepat perkembangan jaman. Itulah penjelasan evolutionary biology mengapa kita tertarik pada fisik cantik/gagah/sexy.

Operasi plastik, dan juga kosmetik tebal, sebenarnya “mengelabui” software otak kita. Walaupun kita tidak punya gen mancung, atau gen payudara besar, dengan operasi payudara/hidung kita membuat efek seolah-olah kita punya gen tersebut. Walau mata kita sipit, dengan operasi mata dan bulu mata palsu tahan bom nuklir membuat kita seolah-olah memiliki gen mata bagus. Dll.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal di atas. Tapi mungkin bisa menjadi potensi kaget saat terjadi perkawinan yang menghasilkan keturunan. Gw pernah baca tentang situasi hipotetis sepasang pria dan wanita yang ganteng dan cantik luar-biasa, tetapi hasil operasi plastik, yang memutuskan untuk menikah. Saat anak mereka lahir, maka kagetlah mereka, “ANAK SIAPA INI??!!” Walaupun ini cerita setengah bercanda, tapi sangat masuk akal. Operasi plastik tidak mengubah gen, yang kemudian diturunkan ke anak.

By: manampiring17.wordpress.com

 
Leave a comment

Posted by on December 6, 2011 in Share

 

A Pilgrimage to One of New 7 Wonders and Why Experiences Bring More Happiness Than Materials

I am going to Vietnam next month. I’m so excited i’m going to see one of new 7 wonders, Halong Bay. Wow!

This is the 1st time i’m going to traveling solo. Yes, solo, alone! I think its gonna be easy because i will do everything up to me and it’s easy to control only myself.

So naturally, the question arises: “Why Vietnam?” And the next logical question: “Why don’t you save the money to travel with somebody?”.

I give my argument for “outing” over “cash bonus”, despite all the troubles, which I find interesting. This is what my mom said: “I understand it is much more convenient to give out money, and perhaps it is preferred by many people. But I want to give you experience, not just money”.
She has a point. When mother give out money, most people would buy things. Few might save or invest or …. but mostly will buy “stuff”. The guys will buy DVDs, toys, videogames, while the women will scramble for clothes, bags, or shoes like there is no tomorrow.

Studies show that “experience-related” purchases bring more happiness than stuff (http://www.livescience.com/culture/purchase-happiness-experience-100304.html). Apparently when we buy stuffs, we are more prone to “comparison” with other people’s possession, and hence feel inadequate or jealous. Experiences, according to the studies, are more enjoyed on their own exactly because they are harder to compare than goods/stuffs.

So yes, an outing is indeed troublesome, and money seems more appealing. But how many of us would actually make a trip to Vietnam, even with sufficient money in hand? And the irreplaceable experience of going with a bunch of loonies to a faraway place, to do silly things, play stupid pranks, take corny pictures, see new things once in a while?

The latest gadgets, or laptops, or home theater, or designer shoes, or bags, can’t bring you memories of paradise.

So yes, I believe in this trip. Even if I have to travel solo. Will write again when I get back!

 
Leave a comment

Posted by on November 27, 2011 in Share

 

Tags: